Perjanjian Abraham ditemukan dalam Kejadian 12:1-3. Ucapara yang direkam dalam Kejadian 15 memberi indikasi akan kondisi perjanjian tersebut yang tidak berkondisi. Allah memberkati Abraham secara rohani (Kejadian 13:8,18; 14:22,23; 21:22); Allah memberinya banyak keturunan (Kejadian 22:17; 49:3-28). Salah satu bagian dari Perjanjian Abraham Matchcase Limit results 1 per page. Click here to load reader. Post on 13-Nov-2021. 0 views. Category: Documents. 0 download. Report. Download; Facebook. Twitter. E-Mail. LinkedIn. Pinterest. Embed Size (px) TRANSCRIPT. SUDIROHUSODO MAKASSAR ROOM HEADS WITH THE APPLICATION OF PATIENT |LIKE||KOMEN||SHARE||SUBSCRIBE||LONCENG||KEJADIAN 8:1-22AIR BAH SURUTKejadian 8:1Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang b BEBERAPAFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN YANG DI RAWAT DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR. Sridina Siregar. Download Download PDF. Full PDF Package Download Full PDF Package. This Paper. A short summary of this paper. 37 Full PDFs related to this paper. Read Paper. Download Download PDF. . 1. ALLAH MENCIPTA & MENGISI KEKOSONGAN 11 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Tuhan ialah awal segalanya, yang memiliki maksud, kehendak & kuasa atas apapun. Semua diawali oleh Allah, hanya Dia satu2nya Yang Ada saat semua belum ada sebab belum dicipta, & semua menjadi ada hanya karena dicipta. Saat langit bumi belum dijadikan, tidak ada apapun sama sekali selain Allah. Yang disebut Allah ialah Yang Mencipta, Yang Permulaan, Tak Memiliki Awal. Allah sendiri tak dicipta/dilahirkan, Dia itu Ada, Keberadaan ada dalam Dia, sebab itu Dia tak dapat ditiadakan, tapi dapat mengadakan & meniadakan. Allah itu Kesempurnaan & Terbesar, tidak dapat & tak perlu berubah, Kekal. Tuhan mencipta unsur yang berubah yaitu langit-bumi. Segala ciptaan pasti dapat berubah, sebab ciptaan ada di luar Allah & bukanlah Allah yang kekal. Allah hidup & bergerak, diciptaNya semua sesuai pribadiNya. Kekosongan itu mati, tanpa pengertian, tak hadir, disetir kegelapan, itu bukan pribadi Allah. Tanpa Allah, tak bisa terbentuk, tak teratur, tanpa wujud & tempat. Kosong tanpa isi, tak akan punya arti/tujuan apapun, mati/tanpa jiwa. Gelap tanpa cahaya, tanpa waktu, tanpa pengertian. Ruang hampa itu mati, tidur, diam. Tak ada waktu & tempat sebab tak terhingga, tanpa batas/ujung & arahan. Tuhan mengamati & memandang bahwa itu tidak baik, maka Roh mengalir bagai angin, masuk bergerak, menghadirkan hidup, meninggalkan jejak air. Kekosongan yang luas itu begitu sia2 & mubazir, tapi Allah jauh lebih besar. Allah tak suka membiarkan kekosongan itu terlepas hilang & berdiri sendiri. Allah ingin biarlah kekosongan itu pun dijadikan hambaNya melalui Keadilan. Tuhan tak membiarkan kuasa gelap buron, Ia ingin menangkap & mengadili. Jika kegelapan itu tak mau menerima kasih Allah, biarlah menerima hukum. Jika bukan hambaNya yang baik, biarlah menjadi hambaNya yang jahat & memikul Kesucian Murka. Jika tak tertangkap KasihNya, biarlah tertangkap KeadilanNya. Itulah mahkluk2 roh yang jatuh/gelap, tak memuliakan Allah. 2. MEMISAH TERANG &GELAP DI CAKRAWALA 13 Berfirmanlah Allah “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. 4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. 6 Berfirmanlah Allah “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” 7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua. Tuhan pertama2 berfirman menjelaskan kehendakNya atau ide yang dinilai baik oleh Bapa, maka terlaksanalah Firman oleh Roh bersamaan FirmanNya. Tuhan membuat kegelapan disorot terang dengan kehadiran kuasa RohNya. Terang itu Hidup & Pengertian, Ia menghidupkan, memberi pengertian akan tiap hal, yang gelap/mati disebut malam, & yang terang/baik disebut siang. Yang terang biarlah terang, gelap biarlah gelap, salah & benar dipisah/beda. Roh membuat terang saat membedakan ruang hampa/mati & ruang udara /hidup. Energi panas Roh memberi tempat bagi bumi yaitu lapisan udara air. Allah membedakan luar & dalam, angkasa & dunia, yang bebas & terbatasi. Dalam Roh/Terang ada hidup, keluar dari Roh ada maut. Roh, tempat hidup. Dalam gelap/maut tiada tempat & waktu/zaman bagi pijakan hidup. Itulah Kurun Pertama dari pekerjaan Allah yaitu Hukum Hidup, Ketetapan Tempat & Waktu, teratur/tetap mulai hari itu & seterusnya dari pagi hingga petang. Tuhan satu2nya Pemikir/Intelegensia/Ide & Pengatur/Tenaga semesta ini. Tanpa Allah, unsur2 hanya kacau/liar/campur tanpa tujuan. Maka diaturNya agar unsur2 dibagi atas & bawah, lapisan udara & air, ringan & berat/padat. Energi panas Roh menghasilkan unsur udara, air, darat tersusun tempatnya. Masa Kedua karya Allah, Hukum/Ketetapan langit & bumi, tempat mahkluk. Permukaan bumi dipenuhi air saja. Energi panas Roh mendorong air menjadi awan2 pelindung bumi & memberi hujan. Terjadi lapisan atas bumi, Atmosfir disebut cakrawala/langit, untuk dirambati gelombang suara, panas, cahaya. 3. MENIMBULKAN DARATAN BAGI TUMBUHAN 19 Berfirmanlah Allah “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. 10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 11 Berfirmanlah Allah “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. 12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga. Tuhan mengikat semua kepada DiriNya & dijadikan melalui DiriNya/RohNya. Dalam Terang & oleh Terang, semua jadi. Semua terang & jelas oleh Firman. Hanya dari Dia, semua bisa ada/hidup. Ini hanya ada & bisa dijelaskan Injil. Firman memakan/menikmati Kehendak Bapa. Kehendak Bapa itu makanan, kehidupan, pekerjaan & tujuan Firman, hingga Firman itulah Allah Yang Ada. Dia Raja/Perintah Absolut, dari & bagi Firmanlah, Roh/Hidup itu Ada/Makan. Kehendak Bapa itu Baik’ Absolut, Firman itu Kuasa Absolut, Satu yang tahu /Pengetahuan & menjadikan, semua dijadikan Firman sesuai KehendakNya. Masa Ketiga pekerjaan Allah yaitu Hukum/Ketetapan kehidupan air & darat. Tuhan memutar bumi pada porosnya hingga cair & membuat celah di bawah bumi untuk Persediaan Minum Bumi, maka darat kering terangkat & jadilah. Tuhan merendahkan air & meninggikan bumi. Dari laut, tanah dibebaskan, & dari tanah/makanan, tumbuh kehidupan. Laut berubah tak bisa dipijak, tapi darat teguh & aman. Di atas dasar itulah Tuhan berkebun & mencipta hidup. Saat unsur bumi dilengkapiNya, dilahirkanlah hidup. Benih berproses hingga beroleh sinar matahari di Masa Keempat, lalu menjadi Persediaan Makanan. 4. MENETAPKAN MASA2 DENGAN PENERANG2 114 Berfirmanlah Allah “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, 15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. 16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. 17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat. Tuhan di hari pertama mencipta ruang udara tempat sinar bebas merambat maka agar bumi disinari, kini bulan diikat pada bumi, & bumi pada matahari. Masa Keempat pekerjaan Allah, Hukum/Ketetapan Waktu & Musim2/Siklus. Sifat Matahari seperti RohNya, menjadi sinar & panas bagi kehidupan. Besar tinggi & berkuasa seperti Allah, tak tersentuh & tak bisa dilawan siapapun. Ciptaan Allah ialah tiruan/perumpamaan/tanda dari yang di sorga & Rohani. Semua yang mencerminkan Allah itu baik, sebab keluar dari Kasih/HatiNya. Tuhan membuat 2 penguasa’ sebab masih mengijinkan ada malam di bumi. Walau matahari tidak hadir di bagian bumi yang gelap/malam, tapi sinarnya menjangkau malam & terpantul Bulan, yang kecil memantulkan yang besar. Hari pertama, Tuhan menilai Terang itu yang baik, maka pemisahan itu baik sebab Terang & Gelap tak bisa bersama, Gelap akan lenyap bila ada Terang. Gelap tak mungkin Terang, & Terang bukanlah Gelap. Si jahat/iblis mustahil benar, & Kebenaran Tuhan itu baik & mustahil salah. Di dunia yang jahat ini, Tuhan membungkus Sang Terang dalam daging & tak buru2 membinasakan gelap, tapi nanti Kejahatan binasa bila Terang Kristus diungkap seluruhnya. 5. MENCIPTA KEHIDUPAN AIR-UDARA-DARAT 120 Berfirmanlah Allah “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” 21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” 23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima. 24 Berfirmanlah Allah “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. 25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Tuhan mengisi langit & laut yang telah jadi di hari kedua, dengan Kehidupan. Oleh ikan & burung, laut & langit menjadi berarti & bisa dinikmati, sehingga sukacita hidup di roh mereka, memuliakan kebaikan/kebenaran Tritunggal. Dalam hewan itu, Allah menghiasi & mendiami tiap tempat yang diciptaNya. Hewan2 diberi kebebasan bergerak & juga batas, maka tak saling merebut. Hewan2 dicipta besar & kecil sejak awal tanpa perlu evolusi, & semua jinak walau besar, tak ada yang buas. Hewan2 diberkati dengan insting/sifat agar berkelamin dalam jenisnya, berkumpul memelihara telur/anak2nya sendiri. Masa kelima pekerjaan Allah, Hukum/Ketetapan mahkluk & kehidupannya. Ikan bersirip menghidupi air & burung bersayap menghidupi udara, tak ada yang bisa membatalkan & menukar, atau bisa membuatnya, selain Tuhan. Tiap roh dicipta sesuai maksud Allah, untuk tujuan-tempat-tubuh masing2. Bagi langit, tercipta tubuh burung, & bagi tubuh burung tercipta roh burung. Roh ikan tak mungkin ada dalam tubuh burung, roh ikan hidup seperti ikan. Tuhan mengisi daratan & hutan yang telah jadi di hari ketiga, dengan Hidup, di permukaan & di dalam tanah, yang bebas di alam liar, & ternak di kebun. Hewan darat tidak dicipta seperti ikan & burung di hari kelima tapi keenam, sebab hewan2 darat dicipta untuk diserahkan menjadi hamba bagi manusia. Penciptaan tampak seperti evolusi, tapi sesungguhnya tiap hewan dijadikan seketika, dirancang & diproses khusus oleh Allah untuk tujuannya sendiri2. Tuhan mungkin mencipta jentik yang kecil dulu, & lalu gajah yang terbesar. Sebab ikanyang berotak kecil dicipta lebih dulu dari manusia yang terpintar. DALAM GAMBARAN RUPA ALLAH 126 Berfirmanlah Allah “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 29 Berfirmanlah Allah “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. 31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Tuhan mencipta alam & mahkluk2 seturut kreatifitas & intelegensiaNya tapi manusia dibuat sebab Ia merupa Diri sendiri agar ditirukan sifat/pribadiNya. Allah itu Allah, tapi Keberadaan Allah Ada dalam 3 Arti, Satu Kehendak Yang Hidup untuk Satu Rupa Yang Hidup dalam Satu Roh Yang Hidup, Tritunggal. Manusia dicipta dalam Rupa Allah agar ia juga bekerja bagi Kehendak Allah. Bumi dicipta untuk dihidupi Allah, & Allah menghidupinya di dalam manusia. Manusia dicipta untuk bumi, & bumi bagi Allah. Maka, anak2 Allah dilahirkan untuk & sebab Kerajaan Allah, & Kerajaan itu didirikan bagi Allah Tritunggal. Segala sesuatu dari Allah, oleh Allah, untuk Allah. Tiada yang luput dari Dia. Tuhan memetakan Diri menjadi wujud kecil agar Ia menghidupi alam cipta, maka manusia harus bisa merasakan & menilai apa yang baik seturut Allah. Tuhan mencipta keindahan bentuk, warna, bau, suara, rasa, & sensasi alam, maka manusia diberi panca indera yang merasai, & akal budi yang menilai. Dengan semua itu, manusia mengetahui arti ciptaan2 & perasaan Pencipta, hingga bisa merasa dekat, memahami & mengasihi Allah & semua ciptaan. Allah berkuasa sebab semua dikenalNya, & mampu memelihara agar hidup. Ia layak dihormat sebagai Penguasa sebab yang memelihara hidup ciptaan. Tuhan ingin Allah digambarkan sebagai kesatuan lelaki & perempuan, sebab Allah itu Kasih, lelaki harus mengasihi/memiliki perempuan, pun sebaliknya. Lelaki dicipta berbeda dengan perempuan sebab Allah itu Tritunggal, saling memberi antara yang kuat & yang lemah, & bukan cinta diri/Narsis & Homo. Maka perintah beranakcucu pun gambaran Kasih, yaitu memberi & berbuah. Perintah berkuasa pun Kasih, manusia harus seperti Allah merawat hewan2. Sukacita ilahi bukan meninggikan diri, tapi merendah menyukakan ciptaan. Tuhan memberi batas bagi setiap jenis hingga semua cukup & tak ada yang perlu rebutan. Tuhan yang mencegah agar tak ada yang jahat & membalas. Sejak awal manusia dibedakan dari hewan, manusia makan buah dari pohon & hewan makan daun/rumput. Tiada yang disakiti & dibunuh, semua kawan. Seluruh ciptaan Kesatuan/Keluarga dari Allah, damai bahagia dikasihi, baik. Tuhan menyuapi dari yang terkecil hingga terbesar, semua merasa Dia adil. Seluruh ciptaan menikmati & dimiliki Tuhan sebab semua bisa hidup/makan hanya oleh FirmanNya, & semua dimiliki bumi sebab harus makan dari bumi. Maka walau manusia berkuasa, tapi tetap bergantung kepada Bumi Tuhan. *** KESIMPULAN & CATATAN PENTING KITAB KEJADIAN PASAL 1 1. Allah Elohim Awal & Pencipta satu2nya, segalanya Dimulai Oleh Allah & Dari Allah. Awalnya bumi tidak ada. Waktu & tempat tidak ada karena tak terhingga, tanpa batas/ujung. Firman menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, menjadikan/mewujudkan segala yang dikehendaki Allah & Memberi Wujud Kepada Gambaran/Ide di dalam diri Allah. Segala hal awalnya Tidak Ada/Wujud, Tiada Arti, & Tiada Ruang/Waktu, hingga Allah membuat semua menjadi Ada, menempatkan waktunya sesuai arti/tujuan/nilai masing2. Baik semua itu diciptakanNya karena Kasih/disukaiNya 2. Roh Allah nafas/udara, hidup, yang pertama ada, hadir, bergerak, mengisi/memenuhi.Maz1043 mendirikan kamar2 loteng-Mu di air, awan kendaraan-Mu, bergerak di atas sayap angin, Ayb 3710 Oleh nafas Allah terjadilah es, permukaan air luas membeku, 2 Petrus 35 oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, juga bumi yang berasal dari air & oleh air. Roh menggerakan Udara menjadi Energi Panas & Unsur Api, suhu & gelombang warna berbeda2, membakar bintang/matahari bagi planet yang dingin & gelap. Gelap tidak bisa menjadi sumber kehidupan. Di mana terang ada, kehidupan ada.Ayb2613 Oleh nafas-Nya langit jadi cerah, Maz1042 berselimut terang seperti kain, Maz1044 membuat angin sebagai suruhan-Mu, api menyala sebagai pelayan-Mu. 3. Zaman Kedua Ayb1046 dengan samudera raya Engkau menyelubunginya; air naik melampaui gunung. Zaman Ketiga Ayb1047 Terhadap hardik-Mu air itu melarikan diri, naik gunung, turun lembah ke tempat yang Kautetapkan bagi mereka. Batas Kautentukan, takkan mereka lewati.Ayb10414 Engkau melepas mata2 air ke dalam lembah2, di antara gunung2, memberi minum gunung2 dari kamar2 loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah 1 Samuel 81–22 . . . Bible Study Summary with Videos and Questions “Give Us a King to Lead Us” Early in 1 Samuel, the Israelites thought they'd benefit from using the ark of God as a good-luck charm instead of appreciating it as a sacred object. After suffering defeat at the hands of the Philistines, the Israelites brought out the ark and took it into battle with them see our summary of 1 Sam. 41–22, hoping it would bring them victory. As we know, it didn't. Now in chapter 8, it's not the ark but a king in whom the Israelites will place their trust and hope. This chapter marks ancient Israel's transition from judgeship to kingship. The Israelites’ desire for a king is but another event in their long history of looking for a source of benefits outside of God and his kingdom. Let's focus on critical changes that this chapter presents in its account of Israel’s history, documenting how slow Israel was to learn. Chapter 8 is divided into two parts. In vv. 1–5, we'll see Samuel make his two sons "judges over Israel" in his golden years; sadly, his sons won't walk in his ways; the Israelites will then demand their own king. In vv. 6–22, Samuel resists their plea for a king; he prays for guidance; the Lord tells him, listen to the people but warn them that a king would take away their sons for military endeavors; the king would also take the best for himself, including numerous tithes, ultimately making the people become the king's slaves; ironically, the people will cry out even more for their own king. “We Want a King!” 81–5 Much of Samuel’s life and ministry was passed over until chapter 8. The Israelites in Canaan had lived in separate territories, not within a united Israel. In v. 1, we find Samuel as a man getting up in his years, perhaps getting ready to retire. He'll appoint his two sons, Joel and Abijah, as judges for Israel, stationed in the frontier town of Beersheba. The people probably wouldn't have pressed for a king at this time had Samuel's sons proven to be as faithful to the Mosaic Covenant as their father had been. Samuel wasn't only gifted as a priest and judge, he was also a prophet. Apparently, God hadn't so gifted Samuel's two sons nor Eli's sons. It became obvious to Samuel that both had become corrupt, however, nothing more is said of their corruption or ministry. Over all, both sons weren't godly men like their father; neither did they follow nor “walk in his ways” v. 3. All of Israel's elders collectively told Samuel that, because he was old and that his sons weren't following his way, their nation required a king v. 4. Their proposed solution was foolish. The folly of their logic sounded like this Samuel, you're getting old, and your sons who'll replace you are corrupt. We can't have a bright future if our leaders are corrupt. Let’s create a new order with a king like other nations. Let him judge us within his dynasty, so that the king's son will rule in his place after his death, for generations to come. It was God who raised judges, yet God was excluded from the elders' purposed proposal. He didn't create a dynasty of judges in which their sons replaced them. Seeing Samuel’s sons as corrupt, they could have been set aside by the elders, as they were. But to propose a dynasty amounted to calling for a system in which the king’s sons would rule in succession, whether they were wicked or righteous. That couldn't be a cure! They simply wanted a king — without God's presence and influence — to become their judge, rather than having judges who acted as Samuel had done. They weren't trying to fire Samuel as their judge; they sought to fire God as their King. The Reason for Requesting a King vv. 6–9 6But when they said, “Give us a king to lead us,” this displeased Samuel; so he prayed to the Lord. 7And the Lord told him “Listen to all that the people are saying to you; it is not you they have rejected, but they have rejected me as their king. 8As they have done from the day I brought them up out of Egypt until this day, forsaking me and serving other gods, so they are doing to you. 9Now listen to them; but warn them solemnly and let them know what the king who will reign over them will claim as his rights” 1 Sam. 86–9. Look closely at the reason for demanding a king. God had made provision for kings to rule his people in the Mosaic Law Deut. 1714– cf. Gen. 126– 176, 16; 3511; 4910. The request in itself wasn't what displeased Samuel and God. Note The request had come from "all the elders of Israel" v. 4. God likely realized it this way "Elsewhere a king was god, but in Israel, God was to be King." However, the elders' request expressed a desire to be "like all nations." But God's purpose for Israel was that it be different from all nations, superior to them, and be a lesson for them Exodus 195–6. God saw their demand as one more instance of Israelite apostasy that prevailed since the Exodus cf. Numbers 1411. He acceded to their request, as he'd done many times before by providing manna, quail, and water in the wilderness. However, he combined judgment with his grace, then and today. Samuel wasn't at all pleased with the elders’ proposal. While it's true that they were seeking his replacement, the text tells us that this proposed change “displeased Samuel.” Simply put, Samuel knew that their request was wrong and that it was sinful. His response further confirmed his godly character He didn't rebuke the elders, shaming them with his disapproval and anger; he went to God in prayer, as he was inclined to do. God’s response to Samuel’s prayer confirmed Samuel’s assessment of the situation. God informed him that, ultimately, it was he, not Samuel, whom they were rejecting. Remember God had become Israel’s King capital "K" at the exodus. In v. 8, God reminded Samuel that Israel’s current rejection of him wasn't something new; it was one more instance in a constant succession of rejections, since the exodus. Their rejection of God as King, while asking for a king “such as all the nations have,” is nothing less than idolatry. The king they wanted was to become their “god.” Having exposed the roots of their worldly proposal, God then instructed Samuel to listen to the people and accept their demand for a king. Although Samuel was to grant the people's request, he was also to advise them of what the king "who will reign over them will claim as his rights” v. 9b. The Consequences of Requesting a King vv. 10–18 In v. 10, Samuel “told all the words of the LORD to the people who were asking him for a king.” Thus, he told the people what God had told him in vv. 7–9, and perhaps other words that God spoke that aren't recorded in our text. But the author wanted us to focus on words recorded in vv. 10–18, which appear to be a very significant part of Samuel’s message to the Israelites who demanded a king. He explained to them what it would mean for them to have a king similar to others. The elders were interested in the functions of monarchy, but Samuel pointed out the nature of monarchy. It meant a loss of freedoms and possessions that people presently enjoyed. In vv. 11–17, Samuel didn't define the rights of a king. Instead he described the ways of most kings. Note the recurrence of the words "take" seven times and "best" twice in the NIV. Another consequence of kingship was financial cost. What the Israelites were demanding was very costly. To have a king who'd lead them to war required a standing army. Being ruled by a king, life on farms would be different. The king would draft Israel's sons into military service; they'd drive his chariots or serve as horsemen or infantry soldiers, with some being drafted as officers. A standing army also needed supplies. Israelite sons would have to plant and harvest crops and build and maintain military equipment and the requisite non-military supplies. And it wouldn't be only young men whom the king would draft into his service; the Israelites’ daughters, who once sat or served at their fathers’ table, would be required to serve at the king’s table as perfumers, cooks, bakers, etc. But the price tag would become even larger. The king and his courts would consume a large quantity of very fine food. To afford that rich cuisine, the king would have to assess a tax on all growth. Their best grain would go to the king, along with the finest of their vineyards, groves, and pastures. A good portion of those fine things that an Israelite farm family once enjoyed would be consumed by the king’s servants. A tenth of farmers' seed and vines would be have to be collected to enable the king’s servants to plant their fields on land the king would take from the people. Add to that the high cost of a king needing staff to serve him. So he'd take the best of Israel's male and female servants. Also, the king would require livestock, and donkeys to plow the king’s fields, all of which the people would have to supply. In short, when the people's king is crowned, he'd rule heavily over them. People who'd enjoyed freedom would soon become the king's slaves. Once they'd finally realize what they'd gotten themselves into, it would be too late to change anything. The Israelites would one day cry out to God to relieve them of the oppression of their own king, but God wouldn't want to hear their outcries, since they'd agreed with wide-open eyes to become their king's slaves. God Meets Israel’s Demand vv. 19–22 19But the people refused to listen to Samuel. “No!” they said. “We want a king over us. 20Then we will be like all the other nations, with a king to lead us and to go out before us and fight our battles.” 21When Samuel heard all that the people said, he repeated it before the Lord. 22The Lord answered, “Listen to them and give them a king” 1 Sam. 819–22. Israel wanted a king. But Samuel warned that they'd pay dearly if they obtained a big government. Excess cost didn't matter to the people or their elders; they were determined to have their own king; they refused to listen to Samuel. Neither did they heed his warnings; they insisted on having a king who'd judge them and go before them in battle, a king to do their judging and their fighting. Samuel listened to all that the people had to say. He then went to the LORD, repeating all that they'd said to him v. 21, which is interesting. We shouldn't be at all surprised to read that Samuel went to the people, telling them everything that the LORD had said to him v. 10. But why did Samuel feel it necessary to tell the LORD all that the people had said to him? It's because Samuel, just like us, needed to talk, commune, and pray with God. We aren't to pray in order to inform him of things; instead, we pray to God because we need him in our life. We must be hearty in how we pray, sharing our burdens and concerns with him. Samuel told God everything the people had said, not because God needed to be informed, but because Samuel [and us] needed to become more personally intimate with God. In answer to Samuel’s prayer, God once again instructed him to give the people what they demanded. And so, not knowing who this king would be, Samuel sent the Israelites to their homes till God indicated the identity of their new king v. 22. Intro Video “The First Book of Samuel” † Watch this introductory video clip created by The Bible Project on It Makes You Wonder . . . Q. 1 Why was rejecting Samuel the same as rejecting God v. 7? Q. 2 Why does the Lord seem to give in to the Israelites v. 22? Oleh Pdt. Hengky Tjia Kej 221 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya “Abraham,” lalu sahutnya “Ya, Tuhan.” Kej 222 Firman-Nya “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Pendahuluan Minggu ini kita memperingati “Hari Ayah”. Seorang ayah memiliki peran yang begitu penting dalam membangun sebuah keluarga, gereja dan juga bangsa. Pemazmur berkata “ . . . anak-anak-Mu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!” Maz 1283. Mutu suatu tunas sangat tergantung pada mutu induk pohonnya. Jika pohon itu baik, maka tunasnya juga baik. Namun jika pohon itu buruk, maka tunasnya juga buruk. Sifat, watak dan kepribadian seorang anak sangat tergantung pada teladan orang tuanya. Kejadian 22 menampilkan sebuah gambaran yang indah tentang hubungan seorang ayah dan anaknya. Ini adalah salah satu kisah yang paling menyentuh di dalam Alkitab. Kisah ini menyampaikan pesan dan arahan yang luar biasa kepada para ayah. Setidaknya ada dua gambaran yang bisa kita lihat di dalam kisah ini. Gambaran pertama, penundukan seorang ayah kepada Allahnya. Perikop ini dibuka dengan sebuah keterangan “Setelah semuanya itu . . .” 221. Jika kita memperhatikan konteks perikop yang terdekat, yaitu Kejadian pasal 20 dan 21, maka kita akan melihat sebuah gambaran ketidaksempurnaan dalam diri Abraham. Ketidaksempurnaan itu nampak nyata secara khusus dalam peran Abraham sebagai seorang suami. Abraham pernah membohongi raja Abimelekh dengan mengatakan bahwa Sara adalah saudaranya, dan bukan istrinya. Akibat kebohongannya, raja Abimelekh hampir memperistri Sara. Ketidaksempurnaan Abraham juga nampak nyata secara khusus dalam perannya sebagai seorang ayah, yang tidak berdaya melindungi Ismail anaknya, ketika Sara menyuruhnya mengusir Hagar dan Ismail. Saudara, Abraham bukanlah seorang suami dan ayah yang sempurna. Tetapi Allah justru memilih Abraham menjadi “Bapa orang beriman”, Bapa bagi bagi semua orang yang menjadikan Allah sebagai Allah mereka. Bukan Henokh, bukan Yusuf, bukan Yosua yang Tuhan jadikan Bapa orang beriman, tetapi Abraham yang banyak kekurangannya. Tetapi, setelah semua peristiwa dan pengalaman yang dialaminya bersama dengan Tuhan, Abraham semakin mengenal Allah dan kehendak Allah baginya. Saudara yang terkasih, mengenal siapa Allah dan apa kehendak-Nya bagi kita sangat penting! Namun mungkin seringkali kita bertanya apa maksud Allah dibalik semua peristiwa yang aku alami? Apa maksud Allah? Seringkali pula kita BELUM mendapatkan jawabannya, dan sebuh pertanyaan kemudian menghentak kita “Masihkah kita percaya kepada-Nya?” 16 Juni 1996 merupakan hari Ayah yang bersejarah bagi saya. Itu adalah Hari Ayah terakhir saya bersama dengan papa saya. Semilan hari kemudian papa meninggal dunia. Beliau meninggal di usia yang terbilang masih sangat muda, 43 tahun. Padahal beliau tulang punggung satu-satunya keluarga kami. Saya tidak mengerti apa maksud Tuhan memanggil papa begitu cepat. Pertanyaannya Masihkah saya percaya kepada Tuhan, meskipun yang belum mengerti apa maksud Tuhan? Abraham juga pernah mengalami situasi yang sangat sulit ketika Allah memerintahkan dia untuk mempersembahkan putranya Ishak sebagai kurban bakaran. Mengapa Tuhan yang baik memerintahkan hal itu? Bukankah Ishak adalah anak yang Tuhan janjikan sendiri? Bukankah sesuai janji Tuhan, melalui Ishaklah bangsa-bangsa di bumi diberkati? Kita melihat Abraham taat Bagi Abraham ini adalah ujian terdalam baginya sebagai seorang ayah. Bagaimana respon Abraham? Kej 223 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Tidak ada alasan yang lain. Allah satu-satu-satunya alasan. Selama ini Abraham telah mempercayakan dirinya dan keluarganya kepada Allah. Abraham percaya kepada Allah dan mengenal siapa Allah. Abraham memilih untuk taat kepada Allah. Seperti apakah iman Abraham? Beberapa ayat dalam perikop ini menunjukkan kepada kita bukan hanya penyerahan total Abaraham kepada Allah, tetapi juga logika iman-nya. Saya akan menunjukkan beberapa ayat dalam perikop ini Kej 224 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Kej 227 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya “Bapa.” Sahut Abraham “Ya, anakku.” Bertanyalah ia “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” 8 Sahut Abraham “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Ibr 1117 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, 18 walaupun kepadanya telah dikatakan “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” 19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. Abraham menaati Allah karena ia menginginkan yang terbaik dari Allah bagi hidup dan keluarganya. Jika kita juga menginginkan yang terbaik bagi diri Anda sendiri, istri, dan anak-anak kita, kita harus sadar bahwa ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya, itulah yang akan mewujudkannya. Abraham menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan seorang ayah terletak kepada penundukannya kepada Allah. Ketika seorang ayah tunduk pada prinsip-prinsip Allah, menaati Dia setiap hari, percaya bahwa Allah akan menggenapi semua yang Ia janjikan. Ketika kita tunduk pada pimpinan-Nya. Kunci untuk memiliki keluarga yang harmonis dan terarah adalah para ayah yang bertanggung jawab untuk memimpin keluarga mereka. Seorang ayah bertanggung jawab kepada Allah. Seorang ayah juga bertanggung jawab kepada keluarganya untuk memenuhi kebutuhan mereka, melindungi mereka dalam segala keadaan, dan berperan sebagai imam bagi mereka. Kepemimpinan rohani di dalam keluarga terletak di bahu ayah. Bagaimana seorang ayah memberikan pimpinan rohani? la bertanggung jawab secara langsung kepada Allah untuk mengajar, memberi petunjuk, mengingatkan, dan menyediakan dasar-dasar disiplin di dalam keluarga Ulangan 61-7; Amsal 41, 4-7; 620. Ia memberikan pimpinan yang baik bagi anak-anaknya Mazmur 10313 dan berusaha untuk tidak melukai roh mereka dengan kekerasan dan teguran yang berlebihan Kolose 321; Ibrani 129. Dari semua hal yang diinginkan para remaja dari ayah mereka, ada dua yang hal yang bertengger nyaris di peringkat teratas mereka berharap para ayah tidak terlalu cepat marah dan mereka berharap para ayah bersedia mengakui kesalahan mereka. Kepemimpinan rohani yang bijaksana akan memasukkan hal-hal di atas dalam pertimbangan mereka. Seorang ayah juga merangsang timbulnya iman dan membangkitkan semangat anak-anaknya 1Tesalonika 211 Ia menyediakan waktu untuk memberikan perhatian secara pribadi kepada mereka. Gambaran yang kedua adalah penundukan seorang anak kepada ayahnya. Setiap jejak dalam kisah ini menunjukkan bahwa Abraham dan Ishak memiliki hubungan yang erat. Mereka pergi bersama menuju tempat untuk melakukan pengurbanan tersebut. Abraham pasti sudah menyampaikan pesan Allah kepada putranya dengan lemah lembut, dan Ishak dengan penuh ketaatan membiarkan ayahnya mengikatnya di atas altar. Ini merupakan gambaran dari ketaatan Kristus kepada Bapa! Ishak tunduk kepada kehendak dan otoritas ayahnya, dan dengan demikian, ia tunduk secara luar biasa pula kepada Allah, yang bertanggungjawab atas semua peristiwa tersebut. Di sini ada sebuah kebenaran yang menakjubkan bahwa Allah bekerja melalui para ayah dan ibu! Keduanya dipakai oleh Allah menjadi sarana untuk mengembangkan sikap dewasa di dalam kehidupan putra-putri mereka. Jika seorang ayah gagal melaksanakan tanggung jawabnya, sebuah keluarga kehilangan yang terbaik dari Allah. Akibatnya ada tekanan tambahan yang diletakkan di atas bahu ibu dan anak-anak. Perlindungan yang lenyap dari keluarga bagaikan sebuah payung yang terbang dari atas kita ketika hujan tiba. Ada sesuatu yang hilang, yang akan memengaruhi hubungannya dengan istri dan anak-anaknya. Ketika para ayah dan ibu menerima tanggung jawab mereka, maka anak-anak belajar dari keteladanan itu untuk untuk tunduk. Penundukan Ishak digambarkan dengan begitu indah. Tak ada sedikitpun pemberontakan, tak ada sikap yang mendukakan orangtuanya maupun Allahnya. Seorang ayah boleh menolak tanggung jawab untuk menjadi pemimpin rohani di dalam keluarganya, tetapi ia tidak bisa mengelak dari konsekuensi atas pilihannya. Kesimpulan Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita mengalami tekanan hidup yang begitu rupa, sampai-sampai kita tidak menemukan alasan yang lain untuk hidup kecuali karena Dia satu-satunya alasan untuk kita hidup. Penundukan kepada Allah adalah kuncinya. Tetaplah tunduk kepada Allah sekalipun kita belum mengerti apa maksud Allah. Jadikan Dia satu-satunya alasan untuk kita hidup. Satu-satunya alasan kita berusaha menjadi ayah yang baik adalah karena Dia adalah Allah kita. Kita adalah milik-Nya dan Dia sudah melakukan kebaikan disepanjang hidup kita. Kebaikan teragung yang telah Dia lakukan justru melampaui apa yang Abraham lakukan. Dia mengikhlaskan Anak-Nya yang tunggal mati di kayu salib demi menebus kita. Apa alasannya Allah melakukan itu? Karena kita, karena Dia mengasihi kita. Tidak ada alasan yang lain. Ilustrasi Saya ingat di Hari Ayah 1996 itu papa memenuhi ajakan saya untuk ke gereja saya untuk melihat saya menyanyi bersama vokal grup saya. Waktu itu saya menyanyi dengan mata berkaca-kaca, ada rasa takut kehilangan papa, tetapi saya rindu menguatkan papa dengan pujian itu Tuhanlah gembalaku, yang setia tulus dan benar. Dialah yang memberi nyawanya untukku. Dialah yang menebus dosa manusia. Hohoho kibarkanlah panji kemenangan itu, dan kabarakan Injil kebenaran, dan janganlah jangan gentar, Tuhan menyertaimu, sampai ke akhir hidupmu. Hai para ayah, tetaplah tunduk kepada Allah. Dialah alasan kita hidup dan melayani sebagai seorang ayah. Mari kita menguduskan diri kita dengan mengkhususkannya bagi Allah. Rom 121 berkata “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati.” Mempersembahkan tubuh berarti menyerahkan pikiran, perkataan dan perbuatan kita secara keseluruhan kepada Allah, untuk kepentingan Kerajaan Allah dan bukan untuk kepentingan diri. Bagaimana caranya Anda sebagai ayah dapat memulai peran Anda sebagai pemimpin rohani di rumah Anda? Mengakui di hadapan Allah segala kelemahan kita dalam memimpin. Mintalah istri dan anak-anak untuk mengampuni kelemahan kita dalam memimpin. Mengatur kembali prioritas kita sehingga hubungan yang baru ini dapat menjadi hubungan yang tetap. Prioritas kita seharusnya demikian pertumbuhan dan perkembangan rohani pribadi, istri dan anak-anak, kemudian pekerjaan dan pelayanan. Menjadikan diri kita teladan rohani. Izinkan keluarga melihat Anda membaca Firman Allah dan mendengar Anda berdoa. Mulailah memimpin keluarga untuk membaca Alkitab, berdoa, dan saling berbagi. Memberikan waktu pribadi kepada anak-anak secara teratur untuk mempelajari Alkitab, berdoa, mengajar, dan berbagi. Meluangkan waktu teratur bersama istri Anda untuk berdoa dan bersekutu secara rohani. Mengembangkan sikap yang membangkitkan semangat keluarga, seperti kasih, kesabaran, dan iman. Kiranya Allah menuntun Anda sampai kepada puncak kebaikanNya bagi Anda dan keluarga Anda. GambarNuh melihat pada orang-orang Nuh dan keluarga mematuhi Tuhan. Semua orang lainnya sangat jahat. Tuhan memberi tahu Nuh banjir akan menutupi bumi jika orang-orang tidak bertobat. Kejadian 65–13; Musa 813–17 GambarNuh mengajar orang-orang Nuh mengajarkan kepada orang-orang bahwa Tuhan mengasihi mereka dan ingin mereka bertobat dan memiliki iman kepada Yesus Kristus. Mereka tidak mau mendengarkan. Musa 819–30 GambarNuh dan keluarganya membangun bahtera Nuh sedih karena orang-orang tidak mau bertobat. Tuhan memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah kapal besar yang disebut bahtera. Bahtera itu akan menjaga keluarga Nuh aman selama banjir. Kejadian 614–18; Musa 825 Gambarhewan-hewan berjalan masuk ke dalam bahtera Keluarga Nuh membawa makanan ke dalam bahtera. Tuhan mengirim setidaknya dua hewan dari setiap jenisnya kepada Nuh. Hewan-hewan itu masuk ke dalam bahtera, dan tujuh hari kemudian turunlah hujan. Kejadian 618–22; 71–9 Gambarbahtera mengapung di laut Sama seperti Tuhan telah memperingatkan, hujan turun selama 40 hari 40 malam. Banjir menutupi bumi. Kejadian 76–23 Keluarga Nuh dan seluruh hewan dalam bahtera mengapung dengan aman di atas air. Kejadian 724; 81–3 GambarNuh, keluarga, dan hewan-hewan di daratan Ketika banjir surut, bahtera mendarat di tanah kering. Nuh dan keluarganya membangun sebuah mazbah untuk menyembah Tuhan dan berterima kasih kepada-Nya karena melindungi mereka. Tuhan berjanji tidak akan pernah mengirim banjir lagi ke bumi. Dia mengirim pelangi sebagai pengingat akan janji-Nya. Kejadian 813–22; 98–17

kesimpulan kejadian 8 1 22